Pada kuartal tiga tahun 2025, asosiasi industri sepatu Indonesia mencatat adanya penurunan order. Penurunan nilai ekspor sepatu Indonesia pada kuartal pertama tahun 2025 tercatat sebesar sekitar 1,63% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan jika melihat data tahun 2023 secara keseluruhan, penurunan nilai ekspor sepatu olahraga bahkan mencapai 25,78% dari tahun 2022. Penurunan ini terkait melemahnya permintaan dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa yang menjadi tujuan ekspor terbesar produk sepatu Indonesia.
Kenaikan tarif impor AS yang mulai berlaku pada Agustus 2025 sebesar 19% dari sebelumnya membuat daya saing produk Indonesia menurun.
Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda, menyampaikan bahwa meskipun pada awal tahun performa ekspor masih stabil, tarif baru ini diperkirakan akan menekan permintaan dari pasar AS. Jika daya beli konsumen AS menurun akibat tarif yang lebih tinggi, maka tidak menutup kemungkinan permintaan sepatu Indonesia di sana ikut menurun.
Hal ini memicu kekhawatiran para pelaku industri sepatu karena AS menyumbang sekitar 25%-26% dari pangsa pasar ekspor alas kaki Indonesia. Penurunan order tentu berdampak langsung ke produksi dan tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini.
Dampak Tarif AS Terhadap Industri Sepatu Indonesia
Kamu harus tahu, penerapan tarif 19% oleh AS bukan hanya menjadi penghambat bagi ekspor, tapi juga menciptakan persaingan harga yang ketat dengan negara lain seperti Vietnam dan Kamboja yang tarifnya sedikit lebih rendah. Para buyer cenderung memilih alternatif yang lebih murah meskipun kualitas sepatu Indonesia terkenal unggul.
Penurunan order ekspor ini tentu saja membuat pelaku usaha khawatir terhadap kelangsungan bisnisnya. Banyak pabrik sepatu yang harus menyesuaikan volume produksi, dan beberapa mulai mengalami keterbatasan dalam mempertahankan jumlah tenaga kerja yang biasanya mencapai ratusan ribu pekerja.
Meski begitu, asosiasi dan pemerintah masih berharap adanya penurunan tarif di masa mendatang atau adanya perjanjian dagang baru yang bisa membuka akses pasar lebih luas sehingga bisa memulihkan volume ekspor.
Baca juga: Meski Pasar Otomotif Lesu, Merek Mobil Ini Masih Jadi Raja Penjualan
Harapan dari Perjanjian Indonesia–Uni Eropa (IEU-CEPA)
Sobat KH, menarik untuk dicatat bahwa di tengah tantangan pasar AS, ada kabar baik datang dari perundingan Indonesia dan Uni Eropa (UE). Perjanjian IEU-CEPA yang rampung perundingannya pada September 2025 ini diharapkan dapat membuka pasar baru bagi ekspor alas kaki Indonesia dengan penghapusan tarif bea masuk ke 27 negara anggota Uni Eropa.
Direktur Eksekutif Aprisindo menyebut bahwa ini adalah peluang emas bagi industri alas kaki Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Indonesia berharap ekspor ke UE akan meningkat signifikan, terutama memasuki periode Natal dan Tahun Baru yang biasanya terjadi lonjakan permintaan.
Pemerintah dan asosiasi juga terus mendorong percepatan implementasi perjanjian ini agar pelaku industri bisa segera memanfaatkan peluang baru tersebut dan menyeimbangkan penurunan di pasar AS.
Peluang Pasar Alternatif Selain AS dan UE
Selain AS dan UE, Aprisindo juga menilai pasar alternatif seperti Peru bisa menjadi peluang baru yang menjanjikan. Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Peru (IP-CEPA) memberikan kemudahan tarif untuk beberapa produk, termasuk alas kaki.
Meskipun kontribusinya masih kecil dibandingkan pasar AS dan UE, keberadaan perjanjian ini memberikan sinyal positif untuk diversifikasi pasar ekspor. Hal ini penting agar industri sepatu Indonesia tidak terlalu tergantung pada satu atau dua pasar saja sehingga lebih tahan terhadap perubahan kebijakan perdagangan.
Baca juga: Pemerintah Kembali Terbitkan Aturan Lartas Impor untuk Lindungi Industri Lokal
Upaya Dalam Negeri untuk Mendukung Industri Sepatu
Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa upaya strategis untuk menghadapi penurunan ekspor sepatu, antara lain:
1. Peningkatan Teknologi dan Inovasi
Pemerintah mendukung pengembangan teknologi manufaktur terkini di industri sepatu melalui pameran dan expo seperti Indo Leather & Footwear Expo 2025. Ini bertujuan meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk agar lebih kompetitif di pasar global.
2. Perlindungan Industri Lokal
Melalui kebijakan pengawasan ketat terhadap impor, terutama produk impor murah dari luar negeri seperti China, pemerintah berupaya melindungi pelaku bisnis lokal agar tidak terdampak dumping harga yang merusak pasar dalam negeri. Pengawasan terhadap jalur impor ilegal juga diperketat.
3. Dukungan Finansial dan Kredit Investasi
Pemerintah menyediakan kredit investasi dengan bunga subsidi (misalnya subsidi bunga 5 persen) untuk sektor padat karya seperti industri sepatu. Hal ini membantu para pelaku usaha tetap bertahan dan melakukan ekspansi produksi.
Baca juga: Potensi IPO Anak Perusahaan Pertamina Tahun 2025, Ini Poin Pentingnya!
4. Percepatan Perundingan Perdagangan Internasional
Pemerintah mendorong percepatan penyelesaian perjanjian dagang seperti Indonesia–Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk membuka pasar alternatif selain Amerika Serikat sehingga mengurangi ketergantungan pasar ekspor sepatu Indonesia.
5. Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Ketersediaan Bahan Baku
Program pelatihan dan sertifikasi untuk tenaga kerja industri alas kaki serta upaya menjaga ketersediaan bahan baku lokal menjadi perhatian untuk menjaga kelangsungan produksi dan kualitas produk.
6. Meningkatkan Investasi
Sepanjang Januari hingga Mei 2025, industri alas kaki Indonesia berhasil menarik investasi dari 12 perusahaan besar dengan total nilai mencapai Rp 8 triliun. Ini mampu memproduksi hingga 64,6 juta pasang sepatu dan 214,6 juta pasang komponen alas kaki serta menyerap lebih dari 80.000 tenaga kerja.
Pentingnya Merek yang Kuat untuk Bersaing
Kamu pasti setuju, Sobat KH, bahwa selain mengandalkan harga dan kuantitas, memiliki merek yang kuat adalah kunci untuk memenangkan persaingan di pasar global. Merek yang dikenal baik tidak hanya menarik konsumen tapi juga memberi nilai tambah produk yang mampu mengatasi masalah tarif dan harga.
Maka dari itu, untuk kamu para pelaku usaha sepatu di Jawa Timur, sangat penting untuk serius mengurus pendaftaran merek agar punya perlindungan hukum resmi dan meningkatkan kredibilitas di mata konsumen.
Kami merekomendasikan Jasa Pendaftaran Merek Surabaya sebagai solusi terbaik untuk mengurus pendaftaran merek dengan proses cepat dan profesional. Ini adalah langkah strategis untuk memperkokoh posisi merek kamu di pasar yang semakin kompetitif.
Kontrak Hukum Siap Membantu!
Sobat KH, masih ada peluang untuk kamu agar tidak hanya bertahan tapi juga berkembang. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Kontrak Hukum. Kamu bisa mendapatkan sesi konsultasi dengan expert dengan biaya mulai dari 490 ribu rupiah saja! Tanya KH atau kirim pesan lewat Instagram @kontrakhukum sekarang!
Selain itu, jangan lupa gabung Komunitas Bisnis KH untuk berbagi pengalaman dengan para pelaku usaha lain dan mendapatkan insight berharga. Jika kamu ingin menambah penghasilan, segera daftar Program Affiliate Kontrak Hukum dan dapatkan jutaan rupiah dari komisi!
Referensi
KONTAN.CO.ID, “Sebulan Berlaku, Tarif Trump Bayangi Ekspor Sepatu Indonesia”, 3 September 2025
CNBC Indonesia, “Pengusaha Sepatu RI Kena Pukul Tarif 19%, Berharap IEU-CEPA Resmi Deal”, 4 September 2025
Bisnis.com, “Ekspor Alas Kaki RI Diproyeksi Tumbuh 10% Usai Tarif Trump Berlaku”, 2 September 2025
Bisnis.com, “Tarif Trump 19% Berlaku, Produsen Sepatu RI Masih Berharap Turun dari 19”, 10 Agustus 2025
Kompas.com, “Penurunan Tarif Trump Jadi Angin Segar Bagi Ekspor Alas Kaki Indonesia”, 19 Juli 2025
KONTAN.CO.ID, “Aprisindo Sebut Peru Bisa Jadi Alternatif Pasar Ekspor Alas Kaki Indonesia”, 14 Agustus 2025





















