Skip to main content

Halo Sobat KH, siapa nih yang merintis bisnis dengan startup? Membangun perusahaan startup atau perusahaan rintisan tentu bukan hal yang mudah. Dunia startup adalah arena yang penuh dengan dinamika, inovasi, dan tidak terlepas dari yang namanya konflik. Sebuah startup mulai dari ide brilian dan semangat kolaborasi yang kuat di antara para founder.

Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan visi, pembagian tugas, kepemilikan saham, atau bahkan masalah personal bisa memicu legal dispute antara founder startup. Jika tidak tertangani dengan langkah yang cepat dan tepat, perselisihan ini bisa berujung pada kehancuran bisnis yang sudah berjalan dengan susah payah, kerugian finansial, hingga tuntutan hukum.

Pasti sobat KH udah ga asing banget dengan pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Namun, jika perselisihan sudah tak terhindarkan, ada berbagai solusi legal yang bisa Anda tempuh sebelum semuanya terlambat dan mencapai titik nadir di pengadilan.

Fondasi Sebelum Mendirikan Startup

Untuk sobat KH yang berencana membangun bisnis dengan skala yang masih terbilang kecil, pastikan kamu tahu fondasinya. Solusi terbaik untuk legal dispute antara founder startup sebenarnya harus ada jauh sebelum masalah itu hadir, yaitu pada tahap awal pendirian. Berikut adalah dokumen legal yang wajib kamu miliki:

1. Founder’s Agreement

Pertama, founder’s agreement adalah dokumen paling krusial bagi setiap founder. Perjanjian ini harus terbentuk di awal bahkan sebelum bisnis berjalan. Umumnya founder’s agreement berisi:

  • Visi Misi

Langkah pertama tentu menentukan arah perusahaan dengan visi misi. Bagaimana pengimplementasian visi dan misi tersebut ke dalam perusahaan dan cara untuk mengembangkan perusahaan dari kesepakatan visi misi tersebut.

  • Peran dan Tanggung Jawab

Delineasi peran dan tanggung jawab setiap founder, apakah hal ini berdasarkan dari banyaknya kepemilikan saham atau dengan proses negosiasi. Kemudian, jelaskan juga mekanisme pengambilan keputusan untuk keputusan penting.

  • Mekanisme Penyelesaian Sengketa

Apabila terjadi konflik antara para founder, bagaimana cara konflik tersebut dapat teratasi. Apakah melalui proses mediasi, arbitrase, atau litgasi? Uraikan secara eksplisit dan pihak mana saja yang terlibat.

  • Ketentuan Buy-Sell

Kemudian, setiap pendiri perlu memikirkan apa yang terjadi jika salah satu founder ingin keluar, dipecat, meninggal dunia sehingga keberadaannya tidak memberikan kontribusi. Apakah saham tersebut akan diperjualbelikan atau menjadi dana perusahaan?

  • Hak dan Kewajiban Lainnya

Terakhir yaitu jelaskan secara rinci apakah ada hak dan kewajiban lainnya yang perlu menjadi perhatian. Seperti kewajiban kerahasiaan dengan non disclosure agreement (NDA), perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI).

2. Akta Pendirian

Setelah founder’s agreement, pastikan bisnis startup Anda memiliki badan hukum yang jelas seperti Perseroan Terbatas (PT) atau PT Perorangan. Dengan adanya badan hukum yang jelas, tentunya akta pendirian badan usaha ini harus terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Hal ini memberikan kerangka legal formal bagi perusahaan.

Solusi Penyelesaian Sengketa Founder Startup

Jika konflik sudah tak terhindarkan dan upaya internal non-formal tidak membuahkan hasil. Ada beberapa cara bisa kamu terapkan sebelum masalah membesar ke ranah pengadilan. Berikut rinciannya:

1. Mediasi

Tahap awal tentunya adalah melalui proses mediasi. Proses mediasi melibatkan pihak ketiga yang netral dan independen di aman dia memfasilitasi komunikasi antara para founder yang berselisih. Mediator tidak mengambil keputusan melainkan membantu para pihak menemukan solusi.

Adapun kelebihan dari tahapan ini yaitu fleksibel dan informal, efisiensi waktu dan biaya, hingga solusi kreatif di mana mediator bisa membantu para pihak berpikir di luar kotak untuk menemukan solusi yang inovatif. Kemudian kekurangan dari proses ini solusi tidak mengikat secara hukum kecuali para pihak menyepakati dan menandatangani perjanjian hasil mediasi.

2. Arbitrase

Langkah kedua yaitu arbitrase di mana melibatkan pihak ketiga yang netral dan independen. Pada proses ini arbiter akan mendengarkan argumen dari kedua belah pihak dan kemudian mengeluarkan keputusan yang mengikat secara hukum.

Lebih lanjut, kelebihan dari proses arbitrase adalah keputusan arbiter bersifat final dan mengikat. Arbiter dapat Anda pilih berdasarkan keahlian mereka di bidang bisnis sehingga putusan lebih relevan nantinya. Adapun kekurangannya adalah keputusan tidak dapat diganggu gugat kecuali jika ada pelanggaran prosedur. Proses ini dapat Anda tempuh jika para founder menginginkan keputusan yang mengikat tetapi menghindari proses pengadilan yang panjang dan terbuka.

3. Negosiasi

Proses negosiasi adalah saat setiap founder menyewa pengacara masing-masing. Pengacara ini akan bernegosiasi satu sama lain untuk mencapai kesepakatan di luar pengadilan. Pengacara berperan sebagai penasihat dan perwakilan hukum.

Proses ini memiliki kelebihan di mana pengacara akan memastikan hak-hak kliennya terlindungi dan memberikan saran hukum yang tepat. Sementara kekurangannya yaitu memakan waktu dan biaya. Tahapan ini bisa berjalan ketika para founder kesulitan berkomunikasi langsung atau membutuhkan panduan hukum yang kuat dalam negosiasi.

4. Buy-Out

Penjelasan dari buy-out adalah ketika salah satu founder membeli saham founder lainnya yang ingin keluar dari perusahaan. Harga pembelian biasanya sudah ditentukan oleh valuasi independen. 

Kelebihan dari proses ini adalah menyelesaikan masalah kepemilikan dan memungkinkan startup untuk terus berjalan dengan founder yang tersisa. Sementara kekurangannya adalah membutuhkan kesepakatan harga dan ketersediaan dana untuk buy-out. Tahapan ini dapat Anda lakukan apabila salah satu founder memutuskan tidak lagi sejalan dan ingin berpisah secara finansial.

5. Likuidasi

Jika semua upaya penyelesaian gagal dan startup tidak bisa lagi berjalan, maka opsi terakhir adalah membubarkan perusahaan dan melikuidasi asetnya untuk dibagikan kepada para pemegang saham dan kreditor.

Kelebihan dari likuidasi adalah untuk menyelesaikan semua kewajiban dan mengakhiri bisnis secara hukum. Adapun kekurangannya merupakan skenario terburuk di mana setiap pihak kehilangan investasi waktu, tenaga, dan juga finansial. Likuidasi menjadi opsi terakhir ketika tidak ada jalan lain dan melanjutkan bisnis hanya akan memperparah kerugian.

Kontak KH

Konflik adalah bagian yang tak terhindari dari setiap hubungan, termasuk dalam bisnis startup. Namun, bagaimana Anda mengelola legal dispute antara para founder merupakan kunci keberlanjutan sebuah bisnis. Mulailah dengan fondasi hukum yang kuat melalui founder’s agreement yang komprehensif.

Dapatkan konsultasi gratis tentang legalitas usaha Anda di Tanya KH. Tim legal kami akan membantu kebutuhan Anda sesuai dengan kondisi bisnis. Anda juga bisa dapat penghasilan tambahan melalui Program Affiliate KH, dan Anda bisa gabung di Komunitas KH untuk bisa bergabung dalam jaringan pebisnis. 

Konsul Cabang Surabaya
Konsul Gratis