Halo Sobat KH! Jika kamu sering melewati jalan tol di Indonesia, pasti sudah tidak asing dengan Jasa Marga. Mereka merupakan perusahaan pelat merah yang mengelola jaringan jalan tol terbesar di tanah air.
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 1 Maret 1978, tidak lama setelah pembangunan jalan tol pertama di Indonesia yaitu jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) selesai. Sejak saat itu, Jasa Marga menjadi pelopor jalan tol di Indonesia.
Jasa Marga bertugas untuk merencanakan, membangun, mengoperasikan, dan memelihara jaringan jalan tol beserta fasilitas pendukungnya, seperti tempat istirahat. Hingga kini, Jasa Marga memegang hak konsesi atas puluhan ruas jalan tol yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.
Secara historis, awalnya Jasa Marga tidak hanya sebagai pengelola tol tetapi juga sebagai otoritas jalan tol di Indonesia hingga tahun 1987. Setelah itu, peran otoritas jalan tol mulai dibagi dengan pihak lain, sementara Jasa Marga fokus sebagai operator jalan tol. Seiring waktu, Jasa Marga juga mengembangkan jaringan anak perusahaan yang bergerak di berbagai sektor terkait tol, seperti pemeliharaan, pengembangan properti di sekitar koridor tol, dan bisnis digital pendukung.
Akibat pembangunan jalan tol yang semakin didukung pemerintah, pendapatan Jasa Marga tentu terus bertumbuh. Namun, anehnya laba bersih mereka malah menurun dari periode sebelumnya lho! Apa sebenarnya penyebab laba Jasa Marga menurun di paruh pertama 2025 ini? Yuk, kita kupas tuntas biar Sobat KH lebih paham!
Kinerja Jasa Marga Semester I 2025
Dari laporan keuangan semester I 2025, Jasa Marga mencatat pendapatan usaha sebesar Rp 12,94 triliun. Angka ini memang sedikit turun jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 13,07 triliun, atau menurun tipis sekitar 0,99% secara tahunan. Namun, pendapatan dari bisnis jalan tol, yang menjadi tulang punggung perusahaan, justru naik sekitar 4,89% menjadi Rp 8,78 triliun.
Volume lalu lintas kendaraan di seluruh ruas tol yang dikelola Jasa Marga juga relatif stabil. Sepanjang semester pertama tahun ini, tercatat sekitar 637,3 juta kendaraan yang melintas, hanya naik tipis 0,1% dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata lalu lintas harian mencapai 3,5 juta kendaraan. Angka ini menunjukkan bahwa kamu dan para pengguna tol lainnya tetap aktif menggunakan tol Jasa Marga meskipun ada sejumlah tantangan ekonomi.
Tetapi, secara mengejutkan, laba bersih yang berhasil dicatat Jasa Marga justru mengalami penurunan cukup signifikan hingga 20,3%, menjadi Rp 1,87 triliun dari Rp 2,34 triliun pada semester I 2024. Ini menimbulkan pertanyaan besar, kenapa laba turun padahal pendapatan tol dan volume kendaraan relatif stabil atau bahkan naik?
Baca juga: Pemerintah Kembali Terbitkan Aturan Lartas Impor untuk Lindungi Industri Lokal
Faktor-faktor Penyebab Penurunan Laba Jasa Marga
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan laba bersih Jasa Marga di paruh pertama 2025. Berikut penjelasannya untuk Sobat KH:
1. Penurunan Pendapatan dari Bisnis Konstruksi
Salah satu penyumbang penurunan pendapatan adalah sektor konstruksi jalan tol dan infrastruktur lain milik Jasa Marga. Pendapatan sektor konstruksi tercatat turun sekitar 12,72% menjadi Rp 3,46 triliun dibandingkan Rp 3,96 triliun pada semester I 2024. Penurunan ini berdampak langsung pada total pendapatan perusahaan.
Bisnis konstruksi ini biasanya bersifat fluktuatif karena tergantung pada proyek baru, progres pembangunan, maupun pendanaan. Penurunan kinerja konstruksi bisa membuat pendapatan total merosot sehingga memengaruhi laba bersih.
2. Beban Pajak Penghasilan yang Melonjak
Sobat KH, beban pajak penghasilan Jasa Marga juga meningkat drastis pada semester I 2025. Beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 762,91 miliar, naik hampir tiga kali lipat dari Rp 264,91 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan beban pajak ini merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi penurunan laba bersih perusahaan secara keseluruhan. Beban pajak yang membengkak ini bisa jadi disebabkan oleh perubahan regulasi pajak atau penyesuaian laporan keuangan perusahaan.
Baca juga: Setahun Setelah Isu Bangkrut Bagaimana Tupperware Bertahan di Pasar?
3. Beban Keuangan yang Masih Membebani
Walaupun Jasa Marga berhasil menurunkan beban keuangan secara konsolidasi sebanyak 20,4% karena aksi korporasi equity financing di anak usaha seperti PT Jasamarga Transjawa Tol, beban keuangan sebesar Rp 1,63 triliun tetap memberikan tekanan terhadap laba bersih.
Beban keuangan ini biasanya berasal dari bunga pinjaman atau utang perusahaan yang digunakan untuk ekspansi dan pembangunan infrastruktur jalan tol. Jadi, walaupun ada pengurangan, beban tetap signifikan.
4. Penurunan Pendapatan Usaha Lainnya
Selain tol dan konstruksi, pendapatan usaha lainnya juga menurun menjadi Rp 695,52 miliar dari sebelumnya Rp 732,68 miliar. Penurunan ini ikut memberikan andil pada total pendapatan yang akhirnya memengaruhi laba perusahaan.
Baca juga: Aturan Baru OJK Tentang Fintech Lending Diterbitkan Apa Saja Isinya?
Apa Kabar Laba Inti dan Efisiensi Operasional?
Jika kamu mengira semua kinerja Jasa Marga melemah, sebenarnya ada kabar baik! Laba inti, yang merupakan laba utama dari operasional bisnis inti perusahaan, justru naik sebesar 7,1% menjadi Rp 1,9 triliun. Ini menandakan bahwa aktivitas operasional tol Jasa Marga tetap sehat dan efisien.
Selain itu, perusahaan juga berhasil meningkatkan EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization) menjadi Rp 6,4 triliun atau naik 4,1%. Margin EBITDA juga tetap terjaga pada level 67,3%, sebuah indikator kuat bahwa perusahaan mampu mengendalikan beban operasionalnya dengan baik.
Jasa Marga juga berupaya melakukan efisiensi biaya, terutama dari sisi pengendalian beban usaha dan administrasi. Kendati beban pajak dan beban keuangan masih menjadi tantangan, efisiensi ini membantu menguatkan performa bisnis utama mereka.
Proyeksi dan Tantangan Jasa Marga ke Depan
Sobat KH, di tengah kondisi ini, Jasa Marga menyiapkan berbagai langkah dan strategi agar kinerja dapat lebih baik di semester II dan seterusnya. Beberapa di antaranya adalah penyesuaian tarif tol yang diharapkan menjadi katalis positif untuk pendapatan dan margin.
Target pertumbuhan pendapatan tol juga realistis, diperkirakan berada di kisaran 4-6% sepanjang tahun 2025. Selain itu, Jasa Marga juga fokus pada proyek-proyek tol baru yang dapat menjaga peningkatan volume lalu lintas.
Namun, tetap ada beberapa tantangan, seperti kondisi ekonomi nasional dan kebijakan suku bunga yang bisa memengaruhi minat masyarakat menggunakan jalan tol.
Apa Arti Semua Ini untuk Kamu?
Sobat KH, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, PT Jasa Marga sebagai perusahaan pengelola jalan tol besar di Indonesia tentu tidak bisa berjalan sendiri dalam mengelola dan membangun infrastrukturnya. Banyak proyek infrastruktur yang melibatkan kerja sama antara berbagai pihak, mulai dari kontraktor utama hingga sub-kontraktor yang menangani berbagai bagian pekerjaan.
Nah, dalam konteks proyek besar seperti ini, penting banget bagi semua pihak yang terlibat terutama para sub-kontraktor untuk memiliki kontrak bisnis yang jelas dan aman. Kontrak ini berfungsi untuk melindungi hak dan kewajiban kamu sebagai sub-kontraktor, menghindari perselisihan, serta memastikan semua kerja sama berjalan lancar dan profesional.
Kalau kamu membutuhkan layanan pembuatan kontrak bisnis yang mudah, aman, dan cepat tanpa perlu tatap muka, kamu bisa coba layanan dari Kontrak Hukum. Mereka menawarkan pembuatan kontrak bisnis secara digital dengan penyelesaian hanya dalam 3 hari, cocok untuk mendukung proyek-proyek infrastruktur besar.
Jadi, untuk kamu yang aktif atau tertarik dengan bisnis konstruksi, pastikan kerja sama kamu terlindungi dengan kontrak bisnis yang profesional. Yuk, Tanya KH atau kirim pesan ke Instagram @kontrakhukum.
Jangan lupa untuk gabung Komunitas Bisnis KH untuk berbagi pengalaman tentang bisnis. Ingin dapat penghasilan tambahan dengan mudah? Daftar Program Affiliate Kontrak Hukum sekarang!





















