Halo Sobat KH! Kamu tentu sudah tidak asing dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, perusahaan konstruksi milik negara yang dikenal luas di Indonesia. Waskita Karya adalah salah satu BUMN konstruksi terbesar yang bergerak di pembangunan infrastruktur, mulai dari jalan tol, jembatan, hingga proyek-proyek strategis. Saat ini, perusahaan ini dipimpin oleh Direktur Utama Istiono yang memegang kendali sejak beberapa tahun terakhir.
Salah satu proyek andalan Waskita yang sedang gencar dikejar adalah pembangunan LRT Jakarta Fase 1B yang menghubungkan Velodrome hingga Manggarai. Progres pembangunan jalur sepanjang 6,4 km ini sudah mencapai 67,12% per awal September 2025.
Proyek ini dibiayai oleh Penyertaan Modal Daerah (PMD) DKI Jakarta melalui PT Jakarta Propertindo. Lima stasiun baru tengah dibangun di jalur ini, yaitu Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai.
Percepatan pembangunan didukung dengan teknologi inovatif seperti metode long span untuk pelaksanaan struktur yang lebih efisien di kawasan padat dan penggunaan teknologi BIM 7D untuk pengelolaan proyek yang terintegrasi.
Kinerja Keuangan Waskita di Kuartal II 2025
Kamu pasti penasaran bagaimana sih kinerja keuangan Waskita Karya di tengah berbagai tantangan konstruksi dan ekonomi? Nah, pada kuartal II tahun 2025, Waskita Karya membukukan prestasi yang cukup menggembirakan.
Laba bruto perusahaan naik sebesar 14,4% year on year (yoy), atau tepatnya bertambah sekitar Rp83,1 miliar. Dengan demikian, laba bruto pada kuartal II-2025 mencapai Rp661,3 miliar, naik dari Rp578,2 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi dan restrukturisasi keuangan yang dijalankan benar-benar mulai memberi hasil.
Meski laba bruto meningkat, Waskita masih mengalami rugi bersih sebesar Rp2,14 triliun di kuartal II 2025. Meskipun demikian, angka ini lebih baik daripada kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp2,16 triliun. Jadi, perusahaan tengah berusaha keras mengurangi kerugian secara bertahap.
Berikut tabel perbandingan kinerja PT Waskita Karya (Persero) Tbk pada Q2 2024 dan Q2 2025:
| Keterangan | Q2 2024 | Q2 2025 | Perubahan YoY |
|---|---|---|---|
| Pendapatan (Rp miliar) | 4.472 | 3.102 | -30,7% |
| Laba Bruto (Rp miliar) | 578 | 661 | +14,4% |
| Laba Bersih (Rp triliun) | -2,16 | -2,14 | Membaik 0,9% (kerugian turun) |
| Beban Bunga (Rp triliun) | 1,9 | 1,88 | -1,1% |
| Total Utang (Rp triliun) | ~71,2 | 68,3 | -4,0% |
| Kas (Rp miliar) | 2.390 | 3.280 | +37,3% |
Mengapa Utang Waskita Karya Sangat Besar?
Nah, Sobat KH, kamu pasti bertanya-tanya kenapa sih utang Waskita Karya bisa selangit?
Waskita adalah perusahaan konstruksi dengan proyek-proyek yang sangat besar. Maka dari itu, tentu perusahaan membutuhkan modal yang besar pula. Mereka membiayai pembangunan jalan tol, LRT, dan infrastruktur lain dengan utang sebagai sumber dana utama. Utang ini terdiri dari pinjaman jangka pendek dan panjang dari bank dan obligasi.
Selain itu, Waskita selama bertahun-tahun memiliki banyak proyek investasi modal besar yang ternyata membebani keuangan karena tidak langsung menghasilkan kas. Hal ini menyebabkan tekanan likuiditas dan kebutuhan restrukturisasi utang agar lebih manageable. Perusahaan bahkan melakukan restrukturisasi utang senilai sekitar Rp 31,65 triliun untuk merevisi jadwal pembayaran dan mengurangi beban bunga agar arus kas lebih sehat.
Walaupun utang besar, Waskita terus berusaha memperbaiki kualitas proyek dan efisiensi operasional. Ini adalah tantangan besar tapi bukan hal yang mustahil.
Baca juga: Laba Jasa Marga Menurun di Semester I 2025, Ada Apa?
Faktor Pendukung Kenaikan Kinerja
Apa yang membuat Waskita berhasil mencatat kenaikan laba bruto dan memperbaiki posisi keuangannya?
1. Efisiensi Biaya
Pertama, keberhasilan efisiensi biaya. Waskita berhasil menurunkan beban keuangan sebesar 18,3% yoy, dari Rp2,3 triliun pada kuartal II 2024 menjadi Rp1,9 triliun pada 2025. Penurunan ini signifikan karena beban bunga dan biaya pinjaman dapat memberikan tekanan besar bagi perusahaan.
2. Restrukturisasi Utang dan Keuangan
Kedua, restrukturisasi utang dan keuangan yang tepat sasaran. Pada 2024, Waskita mendapatkan persetujuan restrukturisasi utang dari 22 kreditur perbankan melalui Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) dengan nilai outstanding sekitar Rp31,65 triliun. Restrukturisasi ini memberikan fleksibilitas kas dan pengelolaan pembayaran yang lebih baik, termasuk menyelesaikan kewajiban kepada vendor tepat waktu.
3. Fokus pada Core Business
Ketiga, fokus kembali ke core business sebagai kontraktor murni dengan menghindari proyek investasi yang berisiko. Manajemen juga memperkuat tata kelola perusahaan dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui sertifikasi pegawai.
4. Perubahan Jajaran Komisaris
Perombakan ini adalah bagian dari strategi perusahaan untuk memperbaiki kinerja keuangan dan mempertahankan kelangsungan bisnis yang lebih sehat di masa depan. Menurut Corporate Secretary Waskita, Ermy Puspa Yunita, penyesuaian ini merupakan wujud komitmen perseroan agar tetap adaptif terhadap dinamika industri serta mempersiapkan strategi jangka panjang menghadapi tantangan ke depan. Perubahan juga memiliki tujuan memperkuat tata kelola dan mendukung proses restrukturisasi yang sedang berjalan.
PT Waskita Karya melakukan perubahan jajaran komisaris dan direksi pada tanggal 20 Agustus 2025 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Perubahan ini mencakup pemberhentian beberapa komisaris lama seperti Dedi Syarif Usman, T. Iskandar, Muhamad Salim, Addin Jauharuddin, dan Muradi, serta penghapusan posisi Direktur Risk Management, Legal, dan QSHE yang sebelumnya dijabat Anton Rijanto. Dewan Komisaris baru yang ditetapkan antara lain Ade Abdul Rochim, Hasby Muhammad Zamri, Aqila Rahmani, Muhammad Harrirar Syafar, dan Muhammad Abdullah Syukri.
Sementara itu untuk Direktur Utama tetap dijabat oleh Muhammad Hanugroho dengan Wiwi Suprihatno sebagai Direktur Keuangan.
Baca juga: Mayoritas Saham Perbankan Big Caps Catat Kinerja Positif di Semester I
PMN Dihapus, Apa Dampaknya Pada Waskita Karya?
Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 6 Mei 2025 menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2025 yang mencabut PP Nomor 34 Tahun 2022. Dengan pencabutan ini, PMN tambahan Rp 3 triliun untuk Waskita Karya tidak berlaku lagi.
Alasan pencabutan ini karena PP Nomor 34 Tahun 2022 “tidak dapat dilaksanakan” sebagaimana tertulis dalam pasal-pasal PP baru. Presiden Prabowo menyatakan bahwa pemerintah hendak mengurangi ketergantungan BUMN terhadap suntikan dana dari negara. Prabowo ingin mendorong agar BUMN lebih mandiri dan memperbaiki kinerjanya secara fundamental.
Dampak pencabutan PMN ini ke Waskita Karya cukup signifikan. Waskita harus mencari sumber pendanaan alternatif untuk menyelesaikan proyek-proyek infrastrukturnya tanpa mengandalkan suntikan modal langsung dari pemerintah. Hal ini memaksa manajemen Waskita untuk semakin fokus pada efisiensi biaya, restrukturisasi utang, dan peningkatan kinerja agar keuangan perusahaan lebih sehat dan berkelanjutan. Sementara itu, rencana privatisasi atau penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) juga menjadi tantangan karena hilangnya dana PMN tersebut.
Pentingnya Tata Kelola Keuangan yang Baik
Sobat KH, dari perjalanan Waskita Karya ini terlihat betapa pentingnya tata kelola keuangan yang baik, terlebih dalam bisnis konstruksi yang bernilai besar dan kompleks.
Mengelola utang, pembayaran vendor, efisiensi biaya, dan mendapatkan pendanaan dengan skema restrukturisasi yang tepat itu krusial untuk memastikan bisnis berjalan lancar dan berkelanjutan. Khususnya bagi UMKM sub-kontraktor yang sering menjadi bagian rantai pasok Waskita dan perusahaan serupa, pengelolaan keuangan yang rapi sangat menentukan kelangsungan usaha.
Untuk itu, para pelaku UMKM yang ingin usaha tetap sehat, jasa laporan keuangan bulanan dari Kontrak Hukum bisa jadi solusi tepat. Dengan layanan ini, kamu bisa fokus berbisnis dan tetap mendapat kontrol yang baik atas keuangan.
Tanya KH atau kirim pesan ke Instagram @kontrakhukum untuk konsultasi sekarang! Tak perlu takut dengan biaya mahal, karena kamu cukup siapkan 490 ribuan saja.
Yuk, gabung Komunitas Bisnis KH untuk bertukar pengalaman bisnis dan dapatkan peluang penghasilan tambahan dengan mudah lewat Program Affiliate Kontrak Hukum.
Referensi
Laporan keuangan PT Waskita Karya Kuartal II 2025, Direktur Keuangan Wiwi Suprihatno, Juli 2025
Progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B hingga September 2025
Analisa kinerja dan perhatian manajemen terkait restrukturisasi dan transformasi






















