Fenomena “habis THR terbitlah surat resign” bukan lagi cerita lama. Tahun 2024 tren ini semakin kuat dan menjadi perhatian serius para pelaku bisnis serta praktisi HR di Indonesia.
Survei Mercer, Boston Consulting Group, hingga data terbaru Mekari Talenta dan JakPat sama-sama mengonfirmasi: gelombang resign massal usai Lebaran bukan sekadar mitos, tetapi realita yang terus berulang.
Apa Pola dari Resign Massal
Data Mekari Talenta menunjukkan pengunduran diri karyawan meningkat 220% di periode awal Ramadhan 2024 (10–20 Maret) dibanding periode sebelumnya.
Head of Business Mekari Talenta, Stevens Jethefer, menyebut bahwa banyak karyawan memang menunggu pencairan THR sebelum mengajukan pengunduran diri.
CEO Wagely Tobias Fischer juga menyoroti sektor manufaktur dan retail di Indonesia sebagai pendorong utama kenaikan turnover pasca Lebaran. Karyawan di lini ini cenderung menunggu THR lebih dulu sebelum berpindah ke tempat baru yang menawarkan peluang lebih baik.
Survei JakPat Februari 2024 memperkuat temuan ini bahwa ada 69% Gen Z berencana mengundurkan diri dari tempat kerjanya, dan 8% di antaranya menyatakan ingin resign setelah menerima THR. Sisanya menyebutkan niat untuk pindah dalam 6–12 bulan ke depan.
Mengapa Karyawan Memilih Resign Setelah Lebaran?
Banyak faktor di balik fenomena ini. Survei Boston Consulting Group pada 2023 mencatat 34% pekerja di Asia Tenggara aktif mencari pekerjaan baru. CNBC menambahkan bahwa 40% pencari kerja mengaku membutuhkan pendapatan lebih tinggi akibat inflasi.
THR yang bersifat one-time off menjadi semacam “pemantik” untuk mengeksekusi niat yang sudah lama tersimpan.
Menurut HRBP Glints Debby Laurentina, alasan resign jarang tunggal.
“Orang resign itu tidak semata-mata karena kompensasi, apalagi THR yang one-time-off. Biasanya ada hal-hal lain yang they are not satisfied with. Itu yang kita fokuskan,” ujarnya.
Faktor internal perusahaan sering kali memicu keputusan ini:
- Ketidakpuasan gaji dan benefit
- Beban kerja berlebihan
- Lingkungan kerja yang dianggap “toxic”
- Ketiadaan jenjang karier jelas
- Perasaan tidak dihargai atau kurang diperhatikan atasan
Dengan kata lain, THR hanya pemantik, bukan penyebab utama.
Dampak Resign Massal pada Perusahaan
Bagi perusahaan, gelombang resign pasca Lebaran bukan sekadar statistik. Ia berdampak nyata pada kelangsungan bisnis:
- Terganggunya Proses Bisnis
Jovita Jims, Head of People & Culture Reku, menjelaskan posisi operasional harian dan proyek sama-sama bisa terganggu. Tanpa pengganti yang tepat, pelayanan kepada pelanggan dan eksekusi proyek bisa molor. - Beban Kerja Melejit pada Karyawan yang Bertahan
Karyawan yang tinggal sering kali menanggung beban tambahan. Jika tidak diantisipasi, burnout pun terjadi dan memicu resign lanjutan. Ini menciptakan efek domino. - Timeline Proyek Berantakan
Proyek yang punya target waktu ketat jadi rawan terlambat ketika penanggung jawabnya tiba-tiba keluar. Perusahaan harus sigap mendelegasikan ulang atau re-assign project owner.
Khusus startup yang bergantung pada investor, kehilangan key player tanpa rencana retensi dapat mengguncang operasional dan kepercayaan pemangku kepentingan.
Pandemi, resesi global, dan inflasi membuat perusahaan harus lebih cermat menentukan prioritas. Retensi tidak bisa menyasar semua orang; perlu fokus pada key player dan key position. Debby Laurentina menegaskan pentingnya pemetaan profil karyawan penting sebelum merancang program retensi yang tepat.
Contoh praktik baik datang dari Bareksa. Deisy Handayani, Head of People Experience Bareksa, menjabarkan empat kunci retensi mereka:
- Transparansi dimana karyawan tahu progres perusahaan dan kontribusinya.
- Pengembangan Karier dengan jalur promosi terbuka bagi yang berprestasi.
- Benefit Kompetitif yaitu paket yang lebih menarik dari kompetitor.
- Employee Engagement dengan program bonding, klub olahraga, hingga sudut karaoke untuk mencairkan suasana.
Strategi ini membantu Bareksa menjaga stabilitas di tengah iklim bisnis yang tak pasti.
Peran Manajemen SDM: Digitalisasi dan Kontrak Kerja yang Adil
Pondasi retensi tetaplah kontrak kerja yang adil dan jelas. Banyak kasus di mana karyawan keluar sebelum masa kontrak karena merasa perjanjian kerja tidak sesuai ekspektasi atau tidak melindungi hak-hak mereka.
Kontrak kerja yang disusun dengan baik akan:
- Memberi kejelasan hak dan kewajiban kedua pihak
- Menjamin perlindungan hukum bagi perusahaan maupun karyawan
- Meningkatkan rasa keadilan dan trust sehingga mengurangi turnover
- Memudahkan HR merancang program benefit dan pengembangan karier sesuai kesepakatan awal
Pastikan Kontrak Kerja Anda Adil dan Mengikat Talenta Terbaik
Fenomena resign massal pasca THR adalah sinyal bahwa perusahaan harus berbenah. Bukan hanya soal gaji, tetapi tentang bagaimana manajemen SDM membangun lingkungan kerja yang sehat dan perjanjian kerja yang fair.
Kontrak Hukum siap membantu perusahaan Anda menyusun dan meninjau kontrak kerja yang adil dan sesuai regulasi. Mulai dari klausul hak-kewajiban, pengaturan benefit, hingga aspek hukum terbaru ketenagakerjaan. Dengan kontrak yang tepat, Anda dapat:
- Meningkatkan retensi karyawan
- Menghindari sengketa ketenagakerjaan
- Memberikan kepastian hukum pada hubungan kerja
Konsultasikan kebutuhan Anda GRATIS sekarang melalui Tanya KH untuk konsultasi gratis dan respons cepat, atau ikuti Instagram kami di @kontrakhukum untuk mendapatkan update terbaru.
Perluas jaringan Anda dengan bergabung di Komunitas Bisnis KH dan temukan peluang pendapatan tambahan melalui Program Affiliate Kontrak Hukum.
Yuk, mulai lindungi bisnis Anda dan ikat talenta terbaik dengan kontrak kerja yang adil bersama Kontrak Hukum!






















