Skip to main content

Siapa yang tak tahu makanan keripik pedas gurih berlevel asal Bandung “Maicih” yang happening beberapa tahun lalu. Kemunculannya yang kini memiliki dua versi membuat bingung para pecintanya. Ya, “Maicih” dan “Maicih For Ichers With Love”.

Ternyata, keduanya memang berbeda dan lain produk, lho. Maicih yang pada awalnya merupakan bisnis keluarga tiga bersaudara Dimas Ginanjar Merdeka, Arie Kurniadi, dan Reza Nurhilman, disinyalir mengalami pecah kongsi. 

Sang Sulung, Dimas Ginanjar melanjutkan bisnis Maicih di bawah bendera CV Maicih. Sedangkan kedua adiknya, Arie dan Reza menjalankan Maicih dibawah PT Maicih.

Kok bisa? Apa yang terjadi? Simak kisah selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Sekilas Tentang Bisnis Maicih

Maicih merupakan produk UMKM asal Bandung. Keripik pedas ini telah membuktikan bahwa Maicih tidak sekadar produk viral yang redup ketika peminatnya turun. Sampai saat ini, tak mudah menemukan kompetitor yang memiliki pencapaian seperti Maicih baik dari segi rasa maupun branding.

Maicih hadir dalam beberapa jenis produk, di antaranya adalah keripik singkong, keripik basreng (bakso goreng), kerupuk gurilem, keripik seblak, mi instan, hingga batagor kuah instan Maicih. Jika dilihat dari pemilihan variasi produk, Maicih sebenarnya tergolong biasa saja, bahkan cenderung mengangkat produk tradisional.

Untuk logonya, logo Maicih sebenarnya terinspirasi dari ibu-ibu yang membuat keripik pedas tersebut. Pemilihan nama Maicih pun alasannya didasarkan pada keunikan namanya yang belum ada pada produk makanan.

Untuk varian rasa, Maicih menghadirkan varian rasa pedas dengan beberapa level berbeda mulai dari level 1 sampai 10. Adanya inovasi level pedas tersebut adalah strategi Maicih untuk memikat konsumen di tanah air yang menyukai makanan pedas.

Brand lokal yang populer sejak tahun 2010-an ini terus berkembang dari skala usaha rumahan menjadi merek ternama. Sampai saat ini, nama keripik Maicih menjadi familiar di telinga masyarakat Indonesia.

Produk tersebut kini sudah banyak dijumpai dimana-mana. Kreativitas dan kegigihannya mengantarkan Maicih menjadi salah satu brand ternama di Tanah Air. Selain itu, produk dari Maicih juga sudah pernah diekspor hingga ke luar negeri seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, China, dan Kanada.

Bisnis Maicih Pecah Kongsi

Bisnis Maicih memang dirintis secara kekeluargaan antara Dimas (anak pertama, Direktur CV Maicih), Arie (anak kedua, Menteri Pangan Maicih), dan Reza (anak bungsu, Presiden Maicih).

Ketika baru berdiri, Maicih dijual dengan menggunakan mobil keliling. Namun, lama kelamaan proses penjualannya beralih memanfaatkan sosial media dan ternyata berhasil meningkatkan penjualan.

Seiring berjalannya waktu, mereka berbeda prinsip dan arah bisnis. Arie dan Reza ingin memperluas jaringan distribusi, sedangkan Dimas ingin fokus meningkatkan kualitas produk.

Hingga akhirnya pada 2011, tiga bersaudara ini memutuskan untuk menjalankan bisnisnya masing-masing.

Sejak perpecahan terjadi, terlahirlah dua logo Maicih yang berbeda. Dimas menjalani bisnis dengan logo Maicih menghadap ke depan dibawah bendera CV Maicih. Ia pun langsung mendaftarkan merek “Maicih” dengan logo tersebut pada 2011.

Sebagai pembeda, Reza dan Arie menggunakan logo Maicih yang menghadap ke samping di bawah bendera Maicih (PT Maicih) dan mendaftarkan merek “Maicih For Ichers With Love” pada 2014.

Dengan kata lain, kedua merek milik Dimas dan Reza & Arie saat ini sama-sama sudah terdaftar. Dan keduanya juga sama-sama membesarkan “Maicih” sesuai dengan visi dan misi yang berbeda, tetapi tidak terafiliasi satu sama lain. 

Dimas menuturkan perpecahan di kalangan keluarganya itu pun susah untuk didamaikan, meski telah diupayakan dengan beberapa langkah. Komunikasi pun tidak lagi berjalan. “Saya telah berusaha untuk berdamai dengan datang pada saat upaya langkah damai oleh beberapa sesepuh, namun dari pihak adik (Reza) nggak mau datang,” ujarnya. 

Reza menuturkan, isu perpecahan yang terjadi di dalam tubuh Maicih tidak menjadi penghambat laju bisnis mereka. Dia memilih untuk tidak memikirkan masalah itu dengan serius dan lebih memilih fokus menjalankan usaha. “Sekarang saya lebih fokus menjalankan bisnis keripik ini yang makin tumbuh potensial,” tuturnya. 

Diketahui produksi dan penjualan kedua produsen brand Maicih itu boleh terbilang sangat melimpah. Maicih ‘milik’ Dimas setiap hari bisa memproduksi 5.000—8.000 bungkus berbagai jenis, seperti gurilem, keripik, seblak, dan basreng. 

Adapun Maicih ‘milik’ Reza bisa memproduksi 75.000 bungkus per minggu dengan produk keripik, gurilem, dan seblak. Omzetnya pun diklaim telah mencapai Rp4 miliar per bulan.

Ketentuan Hukum Mengenai Bisnis Pecah Kongsi

Namanya bisnis, selalu akan ada saatnya naik dan saatnya turun. Ada risiko di setiap langkah, terutama ketika menjalankan bisnis dengan orang lain. Ya, bisa saja terjadi pecah kongsi. 

Pecah kongsi atau yang lebih dikenal sebagai perpecahan bisnis adalah proses dimana sebuah perusahaan atau bisnis yang sebelumnya bersatu mengalami perpisahan menjadi dua atau lebih entitas yang berdiri sendiri.

Alasan dibalik pecah kongsi bisnis bisa beragam, termasuk perbedaan visi, strategi, konflik internal, atau keinginan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan.

Terkait dengan kepemilikan nama merek dan logo, Pasal 1 angka 5 UU merek menjelaskan, kepemilikan atas merek hanya dimiliki oleh pemilik merek terdaftar yang namanya dicantumkan dalam daftar merek di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Akan tetapi, dalam hal bisnis bersama bubar dan merek dagang bersama ingin tetap dimiliki oleh masing-masing pihak, maka kepemilikan atas merek ditentukan atas kesepakatan bersama para pihak.

Kepemilikan merek dapat tetap bisa dimiliki bersama selama merek terdaftar tercatat dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi tetap perlu dipastikan lagi bagaimana kesepakatan yang dibuat oleh para pihak pasca pecahnya usaha bersama.

Dimungkinkan pula, dalam hal masing-masing pihak setelah pecah kongsi tetap ingin menggunakan merek yang sama, dapat ditentukan kedua pihak tetap menjadi pemilik merek, atau salah satu pihak sebagai pemilik merek dan pihak lainnya sebagai pemegang lisensi merek.

Kontak KH

Bagi Sobat KH yang saat ini tengah menjalankan bisnis bersama dan berpotensi pecah kongsi, bisa konsultasikan terlebih dahulu bersama Kontrak Hukum. 

Kami menyediakan layanan bisnis tanpa batas untuk membantu menyelesaikan segala permasalahan dan kebutuhan bisnis, serasa punya tim lengkap hanya di Digital Legal Assistant (DiLA).

Adapun layanan DiLA mencakup konsultasi, servis notaris, legal research, dan surat resmi ke DJKI terkait permohonan jika terjadi pecah kongsi.

Untuk informasi layanan, silakan kunjungi laman Layanan KH – DiLA. Jika ada pertanyaan seputar kebutuhan bisnis lainnya, kamu juga bisa konsultasi gratis di Tanya KH ataupun melalui direct message (DM) ke Instagram @kontrakhukum.

Konsul Gratis