Dari data laporan keuangan terbaru, mayoritas bank besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan beberapa lainnya, mencatat pertumbuhan laba positif meskipun sebagian besar masih di kisaran pertumbuhan single digit.
Kinerja positif ini didukung oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan kredit. Penyaluran kredit memang tumbuh moderat dengan rata-rata sekitar 7,7% YoY, namun hal ini disambut baik oleh para pelaku pasar karena menandakan ada peluang pertumbuhan lebih lanjut di semester kedua. Selain itu, kombinasi rasio biaya dana yang lebih rendah dan peningkatan pendapatan non-bunga turut meningkatkan profitabilitas bank.
Faktor-faktor Pendukung Kinerja Saham Perbankan
Sobat KH, ada beberapa alasan mengapa saham perbankan big caps mampu menunjukkan performa yang positif di semester pertama tahun ini. Berikut faktor-faktor utamanya:
Penurunan Suku Bunga Bank Indonesia: BI telah melakukan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sampai bulan Agustus 2025. Ini membuat biaya dana bank menjadi lebih rendah, mendorong aktivitas kredit dan meningkatkan pendapatan bunga bersih.
Kondisi Ekonomi Makro yang Stabil: Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan melambat sedikit ke angka sekitar 4,9% di 2025. Kondisi ini masih cukup kondusif untuk sektor perbankan yang fokus pada peningkatan mutu aset dan pengelolaan risiko.
Peningkatan Fee-Based Income: Beberapa bank mencatat peningkatan pendapatan dari sumber non-bunga seperti fee dan komisi, yang memberi kontribusi positif terhadap pendapatan operasional.
Optimisme Pasar terhadap Prospek H2 2025: Bank Indonesia dan OJK sama-sama optimis kinerja perbankan akan semakin membaik pada paruh kedua tahun ini.
Baca juga: CIMB Niaga Bukukan Laba Bersih Impresif pada Laporan Keuangan Q1 2025
Gambaran Performa Saham Bank Besar
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut ini rangkuman beberapa bank big caps dan performa kinerjanya di semester pertama 2025:
1. Bank Central Asia (BBCA)
Sobat KH, BBCA menjadi salah satu bank besar yang mencatat kinerja sangat kuat. Laba bersihnya mencapai Rp 29 triliun pada semester pertama 2025, mengalami kenaikan sekitar 8% dari tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit BBCA juga solid, sebesar 12,9% YoY menjadi Rp 959 triliun. Kredit tumbuh di berbagai segmen mulai dari korporasi, UMKM, hingga konsumer. Misalnya, kredit korporasi naik 16,1% YoY dan kredit UKM meningkat 11,1%.
Selain itu, pendapatan bunga bersih BCA tumbuh 7% YoY menjadi Rp 42,5 triliun, sedangkan pendapatan non-bunga juga naik 10,6% YoY sehingga total pendapatan operasional mencapai Rp 56,2 triliun.
Tidak hanya itu, rasio biaya operasional terhadap pendapatan (cost to income ratio) menurun menjadi 29,1%, mencerminkan efisiensi yang makin baik. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga di level rendah 2,2%, menunjukkan kualitas aset yang sehat.
Bank ini juga sangat fokus pada digitalisasi transaksi, dengan frekuensi transaksi digital naik 19% YoY. Semua faktor ini membuat BBCA tetap menjadi saham andalan di sektor perbankan yang menawarkan peluang investasi menarik.
2. Bank Negara Indonesia (BBNI)
BNI juga menunjukkan kinerja positif walaupun kenaikan labanya masih di kisaran single digit. Bank ini berhasil meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat penyaluran kredit, khususnya ke sektor komersial dan korporasi.
Fokus BNI pada penguatan manajemen risiko dan pengembangan sektor usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) membuat prospeknya tetap menarik di tengah tantangan ekonomi yang ada. BNI terus memperkuat kualitas asetnya dengan menjaga rasio NPL pada level yang terkendali, dan terus berupaya meningkatkan pendapatan fee-based untuk memperkuat pendapatan non-bunga.
Baca juga: Adaro Rilis Laba Semester I Bagaimana Proyeksi Dividen Akhir Tahun?
3. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
BRI dengan fokus utama di segmen kredit mikro dan UMKM juga mencatat pertumbuhan laba bersih positif, walaupun pertumbuhan kreditnya lebih berhati-hati untuk menjaga kualitas aset. BRI cukup optimis dengan prospek bisnisnya karena tetap menjadi bank yang berperan besar dalam mendorong pembiayaan bagi sektor usaha kecil dan pertanian.
Walau mengalami perlambatan sedikit dalam pertumbuhan kredit, BRI melakukan pengelolaan risiko yang ketat dengan tetap meningkatkan efisiensi operasional serta pendapatan non-bunga sebagai diversifikasi sumber pendapatan.
4. Bank Jago (ARTO)
Sobat KH, Bank Jago termasuk big caps yang performanya menonjol dengan pertumbuhan laba yang kuat pada semester pertama 2025. Bank ini memanfaatkan teknologi digital untuk menarik nasabah muda dan segmen retail yang luas. Pertumbuhan kreditnya juga terjaga dengan baik dan menjadi salah satu faktor penggerak utama laba bank.
Pengembangan inovasi digital dan kemudahan layanan menjadi keunggulan kompetitif utama Bank Jago sehingga memberi prospek cerah di pasar yang semakin mengarah ke digitalisasi perbankan.
5. Bank Mandiri (BMRI)
Sobat KH, Bank Mandiri mencatat kinerja yang solid pada semester pertama 2025 meskipun pertumbuhan labanya relatif flat dibandingkan tahun sebelumnya dengan angka laba bersih sekitar Rp 13,2 triliun di kuartal pertama, naik sekitar 3,9% YoY.
Pendapatan bunga Mandiri tumbuh signifikan sebesar 11,5% YoY mencapai Rp 39,63 triliun, ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit yang mencapai Rp 1.672 triliun atau meningkat sekitar 16,5% YoY. Ini jauh di atas rata-rata industri, yang menjadi salah satu faktor utama peningkatan aset Bank Mandiri menjadi Rp 2.463 triliun.
Pendapatan non-bunga juga meningkat tajam, terutama dari komisi yang naik hampir 22% YoY menjadi Rp 6,25 triliun. Bank Mandiri juga menjaga kualitas aset dengan rasio NPL sangat rendah di kisaran 1%, menandakan risiko kredit terkelola dengan baik. Dana pihak ketiga tumbuh 11,2% menjadi Rp 1.749 triliun, didukung oleh peningkatan dana murah seperti giro dan tabungan.
Baca juga: Saham GoTo Apa Kabar? Begini Kinerja Mereka Di Kuartal II 2025
Tantangan dan Prospek ke Depan
Walaupun kinerjanya positif, ada tantangan yang harus sektor perbankan hadapi. Perlambatan pertumbuhan kredit yang masih terjadi dan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil bisa menjadi penghambat. Namun, dengan langkah-langkah strategis dari Bank Indonesia dan pengawasan ketat dari OJK, peluang pertumbuhan masih sangat terbuka.
Para analis juga memandang bahwa saham perbankan big caps masih menarik untuk dilirik. Mereka menyarankan agar Sobat KH terus memonitor berita serta laporan keuangan terbaru sebagai bahan pertimbangan.
Inspirasi untuk Bisnis Keuangan
Kalau kamu tertarik untuk terjun ke dunia bisnis, mulai saja dengan hal yang sederhana seperti mendirikan Koperasi Simpan Pinjam. Selain membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di sekitar kamu, koperasi juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan yang menarik.
Kalau kamu butuh bantuan untuk memulai, Kontrak Hukum siap membantu! Tanya KH atau kirim pesan lewat Instagram @kontrakhukum untuk konsultasi kapanpun dimanapun! Tak perlu khawatir akan biaya yang mahal, karena kamu cukup membayar 490 ribu rupiah saja!
Selain itu, untuk kamu yang ingin berbagi pengalaman dan belajar dari pelaku bisnis lainnya, gabung yuk di Komunitas Bisnis KH. Di sana kamu bisa dapat insight menarik dan dukungan dari sesama anggota.
Kalau kamu ingin dapat penghasilan tambahan dengan mudah, segera daftar Program Affiliate Kontrak Hukum. Ini kesempatan terbaik untuk kamu yang ingin menambah pundi-pundi tanpa ribet! Daftar sekarang!





















