Skip to main content

Hampir setiap bisnis dan perusahaan di dunia memiliki merek sebagai upaya dari pemasaran usahanya. Bahkan tidak jarang, perusahaan-perusahaan sering kali mengembangkan variasi merek untuk memenuhi kebutuhan pasar yang beragam.

Ya, di Indonesia sendiri, banyak perusahaan yang memiliki lebih dari satu merek untuk produk atau layanan yang sama atau sejenis, atau dengan kata lain menggunakan strategi yang disebut “multi brand”.

Multi brand adalah strategi yang umum digunakan oleh perusahaan agar bisa memperluas jangkauan bisnis dan melindungi reputasi.

Salah satu contoh perusahaan yang menerapkan multi brand ialah Honda. Berdasarkan penelusuran dari laman resmi Pangkalan Data Kekayaan Intelektual, merek Honda Mobil dipegang oleh PT Honda Prospect Motor (HPM). Sedangkan Honda Motor oleh PT Astra Honda Motor (AHM).

Kedua perusahaan Honda yang berdiri di Indonesia tersebut memiliki nama dan logo merek yang berbeda.

Dalam buku “Car Emblems, The Ultimate Guide to Automotive Logos Worldwide” karya Giles Chapman, diungkapkan bahwa Honda awalnya ingin perbedaan antara logo mobil dan motor sebagai langkah berjaga-jaga. 

Jika divisi mobil gagal, maka tidak akan berdampak pada motor, yang saat itu tengah populer.

Lantas, bagaimana sebenarnya ketentuan untuk perusahaan multi brand di Indonesia dan kaitannya dengan merek dan logo perusahaan tersebut? Agar lebih memahaminya, yuk, simak penjelasan selengkapnya di sini! 

Sekilas Tentang Multi Brand dan Tujuannya

Multi brand adalah strategi pemasaran dimana sebuah perusahaan mengeluarkan beberapa brand atau brand yang berbeda untuk satu jenis produk atau jasa yang sama. 

Ya, multi brand juga bisa terdiri dari merek yang berbeda untuk produk atau layanan yang berbeda, atau merek yang ditujukan untuk pasar yang berbeda, atau bahkan merek yang menyasar segmen konsumen yang berbeda. 

Selain Honda, perusahaan lainnya yang menerapkan multi brand cukup terkenal adalah Unilever. Perusahaan multinasional ini memiliki banyak merek di berbagai kategori, seperti Lipton, Dove, Ben & Jerry’s, dan Hellmann’s.

Selain itu terdapat pula perusahaan minuman terkenal yang memiliki berbagai merek minuman seperti Coca-Cola, sprite, Fanta, dan Dasani, yakni The Coca-Cola Company. Setiap merek ini memiliki logo yang unik untuk mencerminkan identitas merek dan produknya sendiri.

Dikutip dari situs Majalah Forbes, perusahaan memiliki berbagai alasan untuk menerapkan multi brand, yang masing-masing mencerminkan strategi bisnis dan tujuan yang berbeda.

Berikut adalah beberapa alasan umum mengapa perusahaan memilih untuk memiliki banyak merek:

  • Segmentasi (Pembagian) Pasar

Dengan strategi multi brand, perusahaan dapat menargetkan berbagai segmen pasar yang berbeda.

Setiap merek dapat dirancang untuk menarik jenis konsumen yang berbeda, sehingga memungkinkan perusahaan untuk memperluas cakupan pasar dan mencapai beragam kelompok pelanggan.

  • Diversifikasi (Penganekaragaman) Portofolio

Multi brand memungkinkan perusahaan untuk menganekaragamkan produk atau jasa mereka. Hal ini dapat mengurangi risiko bisnis dengan melalui berbagai merek dan industri yang berbeda.

Jika satu merek atau sektor mengalami kesulitan, maka perusahaan masih memiliki pendapatan dari merek lainnya.

  • Penetapan Harga

Multi brand juga dapat digunakan untuk mempengaruhi persepsi harga. Sebagai contoh, perusahaan dapat memiliki merek yang ditujukan untuk pasar masyarakat menengah ke atas dengan harga yang lebih tinggi.

Sementara, merek lainnya ditujukan untuk pasar yang lebih luas (masyarakat menengah ke bawah) dengan harga yang lebih terjangkau.

Dapat disimpulkan, memiliki multi brand dapat memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, termasuk memungkinkan mereka untuk:

  • Menjangkau berbagai pasar;
  • Mengurangi risiko bisnis; dan
  • Mengontrol harga sesuai pasar; serta
  • Mendorong inovasi.

Bagaimana Ketentuan Hukum Perusahaan Multi Brand di Indonesia?

Setelah memahami apa itu multi brand, tujuan, serta manfaatnya, kamu sekarang mungkin bertanya-tanya tentang bagaimana ketentuan hukum multi brand oleh satu perusahaan?

Pada dasarnya, setiap perusahaan dapat saja melakukan strategi multi brand. Dengan catatan, bahwa hal tersebut harus memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi dan Geografis (UU 20/2016).

Dimana berdasarkan UU Merek, tiap perusahaan dilarang memiliki logo yang sama untuk merek dagang atau merek jasanya. Oleh karena itu, perusahaan dengan multi brand di Indonesia haruslah memiliki nama dan logo merek yang berbeda.

Penting juga untuk diingat bahwa jika sebuah perusahaan memiliki sejumlah merek dan logo, maka harus tetap mendaftarkan merek-merek dan logonya. Hal ini menjadi penting agar tidak terjadi sengketa kepemilikan di masa depan. 

Merek-merek dan logo tersebut dapat didaftarkan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM. Adapun pendaftaran merek di Indonesia menerapkan prinsip first to file, yang pada intinya “siapa yang cepat mendaftar, dia yang akan mendapat perlindungan”.

Syarat Pendaftaran Merek

Merujuk pada Pasal 4 UU Merek, bahwa syarat permohonan pendaftaran merek dapat dilakukan baik secara elektronik maupun nonelektronik. 

Berikut merupakan isi permohonan pendaftaran merek berdasarkan Pasal 3 Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek (Permenkumham 67/2016): 

  1. Tanggal, bulan, dan tahun permohonan; 
  2. Nama lengkap, kewarganegaraan, dan alamat pemohon; 
  3. Nama lengkap dan alamat kuasa jika permohonan diajukan melalui kuasa; 
  4. Nama negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali dalam hal permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; 
  5. Label merek; 
  6. Warna jika merek yang dimohonkan pendaftarannya menggunakan unsur warna; dan 
  7. Kelas barang dan/atau kelas jasa serta uraian jenis barang dan/atau jenis jasa. 

Kemudian, permohonan yang telah memenuhi persyaratan dokumen sesuai syarat di atas maka akan diberikan tanggal penerimaan. 

Permohonan diajukan dengan mengisi formulir rangkap dua dalam bahasa Indonesia oleh pemohon atau kuasanya kepada Menteri Hukum dan HAM. 

Dalam mengajukan permohonan, juga harus melampirkan dokumen (Pasal 3 ayat (3) Permenkumham 67/2016): 

  1. Bukti pembayaran biaya permohonan; 
  2. Label merek sebanyak 3 lembar, dengan ukuran paling kecil 2 x 2 cm dan paling besar 9 x 9 cm; 
  3. Surat pernyataan kepemilikan merek; 
  4. Surat kuasa, jika permohonan diajukan melalui kuasa; 
  5. Bukti prioritas, jika menggunakan hak prioritas dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Kontak KH

Demikian penjelasan mengenai strateg multi brand dan ketentuan hukumnya di Indonesia. Jadi, apakah bisnismu juga berencana memiliki lebih dari satu brand? Jangan lupa untuk gunakan nama merek dan logo berbeda dan daftarkan secara resmi ke DJKI Kemenkumham, ya!

Kini, pendaftaran merek juga sudah semakin mudah berkat adanya Kontrak Hukum. Sebagai platform legal digital, kami adalah one-stop-shop untuk keperluan bisnis, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan legalitas dan kekayaan intelektual seperti pendaftaran merek.

Tak perlu ragu karena pendaftaran merek di Kontrak Hukum akan ditangani langsung oleh ahli profesional berpengalaman dan terdaftar resmi di DJKI Kemenkumham, serta melalui proses analisa merek terlebih dahulu.

Yuk, perluas jangkauan bisnis melalui strategi multi brand secara aman, dan kunjungi laman Layanan KH – Pendaftaran Merek. Jika masih memiliki pertanyaan, konsultasikan saja terlebih dahulu di Tanya KH ataupun melalui direct message (DM) ke Instagram @kontrakhukum.

Konsul Gratis