Skip to main content

Dunia media sosial
baru-baru ini diramaikan tudingan plagiasi yang dilakukan rapper asal
Indonesia, yaitu Young Lex oleh fans Kpop (kpopers). Pasalnya, video musik
“Raja Terakhir (The Last King)” milik Young Lex disebut mirip dari segi visual,
gaya, dan koreografi dengan video musik milik Lay, salah satu member boyband
EXO asal Korea Selatan, berjudul “Lit” yang telah rilis sejak Juni 2020. Kpopers
semakin geram saat tidak ditemukannya kredit untuk Lay atau agensinya di dalam
deskripsi video musik “Raja Terakhir”.

Suatu video musik dapat
berisikan lagu, koreografi, gambar dan lain-lain. Oleh karenanya, video musik
dapat digolongkan sebagai karya cipta yang disebut sebagai sinematografi. Karya
sinematografi didefinisikan sebagai ciptaan yang berupa gambar bergerak, antara
lain film dokumenter, film iklan, reportase, atau film cerita yang dibuat
dengan scenario, dan film kartun. Pengertian tersebut diambil dari penjelasan
Pasal 40 Ayat 1 huruf m Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU
HC).

Sebagai suatu ciptaan,
karya sinematografi dilindungi hak cipta secara otomatis. Hak cipta adalah hak
eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Hak moral hanya dimiliki
oleh pencipta sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 UU HC. Sementara hak ekonomi
dapat dimiliki oleh pencipta dan pemegang hak cipta. Dalam hak ekonomi,
pencipta atau pemegang hak cipta diperbolehkan untuk melakukan pengadaptasian,
pengaransemenan, atau pentransformasian ciptaan (Pasal 9 Ayat 1 huruf d).

Adaptasi adalah
mengalihwujudkan suatu ciptaan menjadi bentuk lain, seperti buku menjadi film.
Aransemen adalah penyesuaian komposisi musik dengan suara penyanyi atau
instrumen lain yang didasarkan pada sebuah komposisi yang telah ada dan tidak
merubah esensinya. Sementara transformasi adalah merubah format ciptaan menjadi
format bentuk lain, seperti musik pop menjadi music dangdut. Hasil dari ciptaan
yang telah diadaptasi, aransemen, atau ditransformasi dilindungi pula dengan
hak cipta (Pasal 40 Ayat 2 UU HC).

Maka dari itu, apabila
Young Lex bermaksud untuk mengadaptasi, mengaransemen, atau mentransformasi
karya dari Lay EXO, hal ini diperbolehkan menurut hukum Indonesia. Akan tetapi,
bagi pihak yang melakukannya harus mendapatkan izin dari pencipta atau pemegang
hak cipta dari karya aslinya (Pasal 9 Ayat 2 UU HC). Izin tersebut  berupa lisensi, yakni izin tertulis yang
diberikan oleh pemegang hak cipta kepada pihak lain untuk melaksanakan hak
ekonomi atas ciptaannya dengan syarat tertentu.

Bagi orang yang
melaksanakan modifikasi karya orang lain tanpa izin dan digunakan secara
komersial, hal ini tidak diperbolehkan dan apabila dilanggar orang tersebut dapat
digugat ganti rugi oleh pencipta dan pemegang hak cipta atau dapat dipidana penjara
paling lama 3 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500 juta.

Kabarnya, video musik
“Raja Terakhir” sudah di take down. Young Lex juga telah mengklarifikasi
bahwa ia hanya terlibat sebagai pencipta lagu saja dan tidak terlibat dalam
proses kreatif produksi video musiknya. Sementara Tim Produksi music video
tersebut telah meminta maaf ke publik lewat Instagram dan mengakui bahwa video
musik milik Lay EXO memang menjadi salah satu sumber inspirasi dalam proses
pembuatan video musik Young Lex.

Dari cerita kali ini,
penting sekali bagi Sobat KH untuk memahami ketentuan hukum yang berlaku
terkait hak cipta. Jangan sampai hal serupa terjadi dan lakukanlah pencegahan
plagiarisme dengan mencatatkan hak cipta atas karya Sobat KH kepada Kementerian
Hukum dan HAM. Jika Sobat KH tidak paham caranya, Kontrak Hukum dapat membantu.
Silakan hubungi kami melalui 0821-2555-5332 atau kirim pesan melalui Instagram
@kontrakhukum.

Mariska

Resident legal marketer and blog writer, passionate about helping SME to grow and contribute to the greater economy.