Tanya Jawab

HAKI atau Hak atas Kekayaan Intelektual merupakan hak eksklusif yang dimiliki oleh perorangan, kelompok orang atau badan usaha untuk menggunakan dan mendapatkan manfaat ekonomis dari kekayaan intelektual yang dimiliki dan/atau diciptakan. Istilah HAKI merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan WTO (Agreement Establishing The World Trade Organization).
Yang termasuk dalam HAKI adalah Hak Cipta (copyright), Paten (Patent), Merek (Trademark), selain itu juga ada Rahasia Dagang, Desain Industri, Indikasi Geografis, Sirkuit Terpadu, dan Perlindungan Varietas Tanaman.
Merek merupakan bentuk perlindungan HAKI yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Barang atau jasa apapun yang kita butuhkan, lebih sering disebut dengan nama dagangnya ketimbang nama generiknya. Sejak sebelum memulai aktivitas pagi hari, Anda sarapan Sari Roti ditemani secangkir Nescafe Classic sambil membaca Kompas Online di iPad, baru kemudian berangkat ke kantor naik Innova. Dalam 1 (satu) kalimat tersebut, sudah berapa merek yang Anda sebutkan? Pengertian Merek berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (UU No. 20/2016) adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hokum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa. Merek atau biasa dikenal dengan istilah brand, adalah identitas dari sebuah produk barang atau jasa. Namun tidak hanya sebagai identitas semata, merek juga berperan penting mewakili reputasi tidak hanya produknya, namun juga penghasil dari produk barang/jasa yang dimaksud. Tak heran jika branding menjadi bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk/jasa. Hak atas Merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek terdaftar selama jangka waktu tertentu untuk menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada orang lain untuk menggunakannya sesuai dengan klasifikasi kelas dan jenis barang/jasa yang didaftarkan. Hal yang perlu dipahami adalah pendaftaran Merek menganut prinsip ?first to file? atau yang dikenal dengan ?siapa yang pertama mendaftarkan, maka ia yang mendapatkan Hak atas Merek?. Oleh karena itu, dianjurkan agar mendaftarkan nama merek yang Anda miliki sedini mungkin, untuk menghindari penolakan atau keberatan pihak lain di kemudian hari.
Merek yang didaftarkan dapat berupa Merek Dagang dan Merek Jasa, yang meliputi: - gambar, seperti lukisan burung garuda pada logo Garuda Indonesia atau gambar kelinci pada logo Dua Kelinci; - kata, seperti Google, Toyota, atau Mandiri; - nama, seperti Tommy Hilfiger atau Salvatore Ferragamo; - frasa, seperti Sinar Jaya atau Air Mancur; - kalimat, seperti Building for a Better Future atau Terus Terang Philip Terang Terus; - huruf, seperti huruf 'F' pada logo Facebook atau huruf 'K' pada logo Circle-K; - rangkaian huruf-huruf, seperti IBM atau DKNY; - angka, seperti angka '7' pada logo Seven Eleven atau angka '3' pada logo provider GSM Three; - rangkaian angka-angka, seperti merek rokok 555 atau merek wewangian 4711; - susunan warna, seperti pada logo Pepsi atau Pertamina; - bentuk 3 (tiga) dimensi; - suara; - hologram; - kombinasi dari unsur-unsur tersebut.
  • Pendaftarannya dilandasi dengan itikad buruk. Katakanlah seorang pengusaha ayam goreng mendaftarkan merek CIPUTAT FRIED CHICKEN di kelas dan jenis barang-barang hasil olahan daging ayam. Jika ada engusaha lain yang mencoba mendaftarkan merek yang sama untuk kelas dan jenis jasa restoran dengan niatan untuk menghalangi pengusaha pertama, maka pendaftaran ke dua bisa dianggap dengan itikad tidak baik dan dengan demikian semestinya tidak dapat didaftar;
  • Bertentangan dengan ideologi negara perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum. Salah satu contohnya adalah merek Buddha Bar yang kemudian dibatalkan karena dianggap bertentangan dengan agama;
  • Memuat unsur yang dapat menyesatkan masyarakat;
  • Memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat atau khasiat dari barang atau jasa yang diproduksi;
  • Tidak memiliki daya pembeda, misalnya tanda tanya “?” atau huruf balok tunggal “K” dalam perwujudan yang biasa/lazim. Namun tanda tanya “?” yang diberi ornamen seperti pada logo Guess, atau huruf tunggal “K” yang ditampilkan dalam tata artistik tertentu seperti pada logo Circle-K, bisa didaftar;
  • Merupakan nama umum atau lambang milik umum, seperti tanda tengkorak bajak laut atau palang seperti pada palang merah. Namun jika diberi ornamen tambahan seperti tengkorak pada logo Skullcandy atau palang pada logo Swiss Army, bisa didaftar;
  • Menerangkan barang/jasanya itu sendiriApple tidak dapat didaftarkan sebagai merek untuk buah-buahan, tapi bisa didaftar untuk merek produk elektronik.

Pendaftaran suatu merek juga harus ditolak oleh Direktorat Jenderal HKI jika merek yang akan didaftar mempunyai persamaan baik keseluruhan maupun pada pokoknya dengan: 

  • Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang atau jasa sejenis;
  • Merek terkenal milik pihak lain untuk barang/jasa yang sejenis.
  • Merek terkenal milik pihak lain untuk barang atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu;
  • Indikasi Geografis Terdaftar. 

Di samping itu, pendaftaran juga harus ditolak jika merek:

  • merupakan atau menyerupai nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum milik orang lain kecuali sudah ada persetujuan;
  • merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang, simbol, atau emblem negara, lembaga nasional, atau lembaga internasional kecuali sudah ada persetujuan; atau
  • merupakan tiruan atau menyerupai tanda, cap atau stempel resmi yang digunakan negara atau lembaga pemerintah, kecuali sudah ada persetujuan tertulis.

Belum ada Pertanyaan Terkait

Lihat semua Pertanyaan