Skip to main content

Melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja), pemerintah merubah dan menambahkan beberapa ketentuan yang mengatur mengenai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sebelumnya telah disusun dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 (UU UMKM). Perubahan dan penambahan pasal tersebut merupakan wujud bantuan dan dukungan dari pemerintah dalam rangka mempermudah UMKM untuk berkembang. Ingin tahu apa saja kemudahan yang diberikan? Simak uraian selanjutnya!

1.      Keringanan biaya Perizinan Berusaha.

Bagi UMK yang mengajukan Perizinan Berusaha dapat diberi insentif berupa tidak kenai biaya untuk Usaha Mikro dan          diberikan keringanan biaya untuk Usaha Kecil sesuai dengan Pasal 12 UU UMKM jo. UU Cipta Kerja.

2.     Pembiayaan dan penjaminan bagi UMKM.                                                                                                   

Bagi Usaha Mikro dan Kecil, pembiayaan dapat diterima dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta Usaha Besar nasional dan asing. Pembiayaan tersebut dapat berupa pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. Pemerintah dapat pula memberikan insentif dalam bentuk kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana dan prasarana, dan bentuk insentif lainnya. Sedangkan bagi Usaha Menengah, pemerintah memfasilitasi dan mendorong peningkatan pembiayaan modal kerja dan investasi melalui perluasan sumber dan pola pembiayaan, akses terhadap pasar modal, dan mengembangkan lembaga penjamin kredit, dan meningkatkan fungsi lembaga penjamin ekspor

3.      Pemberian insentif kepada Usaha Besar dan Menengah dalam rangka kegiatan kemitraan dengan Koperasi atau UMK.                                                                                                                                        

Pemerintah pusat dan daerah wajib memfasilitasi, mendukung, dan menstimulasi kegiatan kemitraan Usaha Menengah dan Usaha Besar dengan Koperasi, Usaha Mikro, dan Usaha Kecil yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan level usaha. Bagi pelaku yang telah melakukan kemitraan, pemerintah akan memberikan insentif melalui pengembangan produk agar dapat diekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan, serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

4.      UMK diberi kemudahan/penyederhanaan administrasi perpajakan                                                                   

UMK yang berorientasi ekspor dapat diberikan insentif kepabeanan dan bagi UMK tertentu dapat diberi insentif Pajak Penghasilan (PPh).

5.      Mempermudah UMK dalam hal pendaftaran dan pembiayaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).                                                                                                                                                                                   

Tidak hanya itu, pemerintah pusat dan daerah juga mempermudah dan menyederhanakan proses untuk UMK dalam mengimpor bahan baku dan bahan penolong industri apabila tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri, dan/atau fasilitasi ekspor.

6.      Pembebasan biaya untuk mendapatkan Sertifikasi Halal.                                                                              

Poin ini diatur di dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang telah diubah dalam UU Cipta Kerja. Dikatakan dalam Pasal 44 Ayat 2 peraturan tersebut, jika permohonan Sertifikasi Halal diajukan oleh Pelaku UMK maka tidak akan dikenai biaya.

7.      Pemerintah pusat mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK).                                                                         

DAK diberikan sebagai bentuk dukungan pendanaan bagi pemerintah daerah dalam rangka kegiatan pemberdayaan dan pengembangan UMKM. Pengalokasian DAK tersebut harus dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan  perundang-undangan.

8.      Penyediaan tempat promosi bagi UMK di infrastruktur publik.     

Pemerintah pusat dan daerah, BUMN, BUMD, dan badan usaha swasta wajib mengalokasikan penyediaan tempat promosi, tempat usaha, dan/atau pengembangan UMK pada infrastruktur publik yang mencakup terminal, bandar udara, pelabuhan, stasiun kereta api, tempat istirahat dan pelayanan jalan tol, serta infrastruktur public lainnya. Alokasi tersebut paling sedikit 30% dari luas tempat pembelanjaan pada infrastruktur publik yang bersangkutan.

9.      Penyediaan layanan bantuan dan pendampingan hukum.   

Penyediaan tersebut bersifat wajib oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ketentuan tersebut dipertegas di dalam Pasal 96 UU UMKM jo. UU Cipta Kerja.

Keuntungan di atas dapat dirasakan pelaku UMKM jika telah memiliki Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK). IUMK adalah tanda legalitas kepada seseorang atau pelaku usaha/kegiatan tertentu dalam bentuk izin UMK dalam bentuk satu lembar. IUMK tersebut diterbitkan oleh Lembaga Online Single Submission (OSS) yang dilakukan
dengan cara :

  1.   Mengakses laman OSS untuk memperoleh akun pengguna (https://oss.go.id)
  2.  Mendaftar pada laman OSS menggunakan akun pengguna
  3. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi data seperti yang tercantum dalam OSS
  4. OSS menerbitkan NIB bagi pelaku usaha yang telah melakukan pengisian data secara lengkap. Setelah pelaku usaha memperoleh NIB, Lembaga OSS secara bersamaan akan menerbitkan IUMK. IUMK tersebut dapat digunakan oleh pelaku usaha untuk melakukan kegiatan usaha dan pengajuan Izin Komersial atau Operasional.

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengembangkan bisnis hanya karena tidak memiliki IUMK. Ingin mempunyai
IUMK tetapi sibuk? Tidak usah khawatir, ada Kontrak Hukum yang siap membantu Sobat KH untuk mendapatkan izin tersebut. Hanya dalam hitungan hari, IUMK sudah dapat dikantongi. Tunggu apalagi? Yuk, dapatkan IUMK Sobat KH bersama kami! Silakan hubungi kami di Instagram @kontrakhukum atau 0821-2555-5332.

Mariska

Resident legal marketer and blog writer, passionate about helping SME to grow and contribute to the greater economy.